Cerbung - Langkah -Langkah Jalang -->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Cerbung - Langkah -Langkah Jalang

Thursday, September 29, 2022 | September 29, 2022 WIB | 0 Views Last Updated 2022-09-29T02:00:44Z

https://lebsi.wanheartnews.com

Beberapa saat kemudian Mas Baskoro masuk ke dalam mobil yang mesinnya masih dihidupkan oleh Daman. Aku pun menghampirinya pada saat pintu belakang yang sebelah kiri masih terbuka.

“Take care ya Mas, “ ucapku sambil mengecup pipinya.

“You too … “ sahut suamiku sambil membelai rambutku. Kemudian pintu belakang kiri ditutupkan. Mobil suamiku pun mulai bergerak meninggalkan garasi dan pekarangan rumah.

Lalu aku kembali ke ruang keluarga, sambil menghabiskan secangkir black coffee yang tidak dihabiskan oleh suamiku.

Memang satu – satunya ganjalan dalam kehidupanku adalah keinginan untuk hamil yang tidak juga terjadi pada diriku. Tapi aku tak pernah mengutarakannya kepada Mas Bas. Lagian perkawinan kami baru berumur setahun. Orang lain pun banyak yang beru punya anak setelah usia perkawinan mereka 3 atau 4 tahun. Bahkan ada juga yang baru bisa hamil setelah usia perkawinan mereka sudah 7 tahun.

Sebenarnya aku masih ngantuk, karena tadi malam membuka kado – kado sambil memperhatikannya satu persatu. Dan hal itu menghabiskan waktu berjam – jam, karena termenungnya pun cukup lama.

Aku sudah beli udang besar yang tadinya akan kumasak dan kumakan bersama suamiku. Tapi karena suamiku berangkat ke Jakarta, biar kumasak saja untuk kumakan sendiri. Karena udang mentah yang terlalu lama disimpan di dalam kulkas suka hilang enaknya. Apalagi kalau sudah merah – merah, mendingan dibuang saja.

BACA JUGA: Desah Nafas Janda

Lalu aku melangkah ke dapur. Mengupas kulit udang sampai bersih benar. Kebetulan ada kacang capri untuk campuran tumisnya.

Setelah menyiapkan bumbu tumisnya, maka kutumis udang dan kacang capri yang hijau sekali itu dengan margarine.

Setelah tumisan selesai, bergegas aku masuk kde dalam kamarku, langsung masuk ke kamar mandi. Karena kurang enak makan kalau belum mandi dulu.

Setelah selesai mandi kukenakan kimono putihku. Tadinya mau langsung sarapan pagi. Tapi begitu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, aku langsung teringat Andi. Kenapa dia belum kelihatan keluar dari kamarnya ? Bukankah biasanya setiap jam setengah tujuh dia sudah berangkat kuliah ?

Lalu bergegas aku menuju pintu kamarnya. Mengetuk – ngetuk pintu itu agak keras sambil memanggil – manggil nama keponakan Mas Bas itu. “Andiii … ! Andiiii ! “

Tidak terdengar sahutan. Apakah dia sudah berangkat kuliah ?

Ketika kutekan handle pintu itu, ternyata pintunya tidak terkunci. Dan langsung nampak Andi yang masih tidur nyenyak, dengan sekujur tubuh nya ditutupi selimut, kecuali kepalanya saja yang tidak ditutupi selimut.

BACA JUGA: Gairah Terlarang

Astagaaa … sudah jam sembilan belum bangun juga ? Pasti bakal kesiangan dia itu !

Lalu dengan jengkel kutarik selimut yang menurupi badan dan kedua kakinya itu sambil berseru, “Andi ! Ini sudah jam sembilan ! Bangun ! Pasti kamu bakal kesiangan !”

Dan aku terkesiap. Karena setelah kutarik selimut itu, tampaklah sesuatu yang luar biasa. Bahwa di balik serlimut itu tidak ada apa – apa lagi kecuali sekujur tubuh Andi yang tak tertutupi sehelai benang pun … !

Dan sekilas aku melihat sesuatu yang luar biasa di bawah perutnya. Sebentuk alat kelamin cowok yang sangat panjang dan sangat gede … sedang ngaceng pula … !

Aku mau berseru lagi untuk membangunkan Andi. Tapi tiba – tiba kedua tanganku ditarik dengan sangat kuatnya, membuatku terhempas ke atas dadanya.

Celakanya aku belum mengenakan celana dalam. Sehingga pada saat dadaku ke atas dada Andi, tanpa kusengaja kemaluanku berhimpitan dengan penis Andi yang terasa keras itu.

“Sana pakai baju dulu ! Memangnya tiap malam kamu tidur telanjang gitu ?”

“Iii … iya Tante … mmm … tadi malam sepulangnya dari restoran itu aku latihan yoga dulu … lalu ketiduran saking lelah dan ngantuknya, “ Andi bergegas meraih celana boxer dan mengenakannya. Lalu bergegas pula mengenakan kaus oblongnya.

“Terus kenapa bangun terlambat ? Pasti kesiangan kan kuliahnya ?! “ ucapku dengan nada ketus.

Penasaran dengan kelanjutannya?

Baca sambungannya di sini

Iklan

×
Berita Terbaru Update
close