
WANHEARTNEWS.COM
- Militer Amerika Serikat (AS) menyerang Pembangkit Listrik Tenaga
Nuklir (PLTN) Darkhovin di Provinsi Khuzestan, Iran, Minggu (19/7/2026).
AS melancarkan gelombang serangan ke-8 terhadap Iran, menargetkan lebih
banyak wilayah.
Organisasi Energi Atom Iran menyatakan beberapa rudal AS menghantam lokasi PLTN yang masih dalam tahap pembangunan tersebut.
Disebutkan, serangan terjadi pada Minggu pukul 03.39 waktu setempat. PLTN Darkhovin mulai dibangun pada 2022.
Organisasi Energi Atom Iran mengecam keras serangan AS tersebut.
“Rezim
AS teroris dan kriminal, sifatnya tidak lain adalah intimidasi dan
pelanggaran hukum, melakukan tindakan agresif dan biadab yang melanggar
hukum internasional,” bunyi pernyataan organisasi, seperti dikutip dari
Al Jazeera.
Disebutkan
PLTN yang diserang merupakan salah satu simbol martabat Iran serta
pembuktian dari kemandirian bangsa dalam bidang sains.
Sementara
itu Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sedang menyelidiki laporan
serangan AS tersebut. Badan PBB tersebut mengindikasikan tak ada
kebocoran radiasi karena PLTN masih dalam tahap pembangunan.
“Fasilitas
tersebut masih dalam tahap pembangunan awal dan tidak mengandung
material nuklir saat terakhir kali dikunjungi oleh IAEA,” kata badan PBB
tersebut.
Serangan tersebut diyakini tidak menimbulkan risiko radiologis.
Direktur
Jenderal IAEA Rafael Grossi mendesak semua pihak untuk menghindari
serangan terhadap semua lokasi yang terkait dengan nuklir
Sumber: inews
