WANHEARTNEWS.COM - Kemenangan 3-2 Argentina atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia memicu kontroversi, baik di dalam maupun di luar lapangan, setelah para pemain, staf pelatih, dan pendukung Mesir mempertanyakan beberapa keputusan krusial dalam pertandingan tersebut.
Mesir
sempat unggul 2-0 dan tampak berada di jalur yang tepat untuk melaju ke
perempat final sebelum akhirnya kebobolan tiga gol di menit-menit
akhir. Namun, hasil pertandingan itu segera tertutup oleh kemarahan
terkait kepemimpinan wasit, termasuk dianulirnya gol Mesir setelah
peninjauan ulang, penolakan terhadap klaim penalti di akhir laga, serta
protes dari kubu Mesir sesaat sebelum Argentina mencetak gol kemenangan
di masa tambahan waktu.
Kemarahan
itu juga terlihat di pinggir lapangan, di mana anggota staf pelatih
Mesir memprotes keputusan wasit, sementara para pemain tampak berdebat
dengan perangkat pertandingan.
Di
dunia maya, banyak pihak berpendapat bahwa keputusan-keputusan tersebut
telah merampas peluang adil bagi Mesir untuk melaju ke babak
berikutnya, menjadikan laga ini salah satu pertandingan yang paling
banyak diperdebatkan di fase gugur.
Pelatih
Mesir, Hossam Hassan, mengkritik kepemimpinan wasit usai pertandingan;
ia menyatakan bahwa Mesir tampil lebih baik dan menyebut kejadian
tersebut "tidak adil". Ia mempertanyakan alasan dianulirnya gol
Mesir—yang menurutnya bisa membawa tim unggul 3-1 sebelum kedudukan
berubah menjadi 2-2—serta mengisyaratkan adanya dukungan demi
kepentingan "pemasaran" agar mantan juara Piala Dunia tersebut tetap
bertahan dalam turnamen.
Garry
Kasparov, mantan juara dunia catur sekaligus komentator politik, turut
mengkritik keputusan tersebut melalui platform X. "Gol luar biasa Mesir
dianulir akibat pelanggaran yang terjadi jauh dari lokasi kejadian, lalu
situasi serupa terjadi beberapa menit kemudian namun gol Argentina
tidak dianulir! Tidak ada VAR, tidak ada tindakan apapun?"
Ia menambahkan bahwa FIFA "lagi-lagi tampak seperti lelucon yang korup" dan menuduh organisasi tersebut "memihak para bintang".
Mantan
penyerang tajam Inggris sekaligus pengamat sepak bola, Alan Shearer,
juga mengkritik konsistensi keputusan tersebut di X. Ia menegaskan, bila
gol Mesir pada babak pertama dianulir karena ada pelanggaran kecil,
seharusnya gol pamungkas Argentina diperlakukan sama.
“Entah
keduanya merupakan pelanggaran atau sama sekali bukan pelanggaran.
Padahal, mereka bilang tidak akan melakukan peninjauan ulang atas
keputusan wasit.”
Dale
Johnson, koresponden isu sepak bola di BBC Sport, menyatakan di X bahwa
keputusan menganulir gol Mesir "sama sekali bertentangan dengan cara
turnamen ini dipimpin oleh wasit".
Ia
mengatakan bahwa perangkat pertandingan tidak bisa mengambil pendekatan
yang "longgar"—dengan membiarkan kontak fisik minim—namun kemudian
menganulir gol melalui VAR hanya karena "tarikan pada kaus yang sangat
minim".
Analis
sepak bola Geronimo Morgans menulis di X bahwa VAR tidak meninjau "dua
pelanggaran jelas" terhadap pemain Mesir di dalam kotak penalti
Argentina sebelum gol Enzo Fernandez tercipta, sementara sebuah
pelanggaran justru membatalkan gol kedua Mesir. "Mengapa perlakuannya
harus begitu berat sebelah?" tulisnya, seraya menyebut pertandingan itu
"sama sekali tidak adil" dan menyatakan: "Mesir telah dicurangi."
Mohamed
El-Baradei, peraih Nobel asal Mesir dan mantan kepala Badan Tenaga Atom
Internasional (IAEA), menulis dalam bahasa Arab di platform X bahwa
FIFA telah "kehilangan banyak kredibilitas dan kepercayaan" karena
alasan-alasan yang "diketahui semua orang".
Craig
Murray, mantan duta besar Inggris dan komentator politik, juga
melontarkan kritik di X. Ia memelesetkan singkatan FIFA dalam
unggahannya. “Bukan saya yang mencetuskan istilah ini, tetapi FIFA =
Fixing It For Argentina (Mengatur Segalanya demi Argentina) benar-benar
terlihat mencolok.”

