WANHEARTNEWS.COM - Iran mengancam akan melancarkan pembalasan dahsyat terhadap Amerika Serikat (AS) jika Washington terus menyerang wilayah Iran dan melanggar MoU Islamabad yang mengakhiri perang kedua negara sejak 28 Februari lalu. Militer Iran menegaskan bahwa AS akan menghadapi tindakan yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Juru
bicara militer Iran, Brigjen Mohammad Akraminia, mengatakan Presiden
Donald Trump akan menghadapi tantangan baru dan tak terduga apabila AS
melanjutkan kebijakan permusuhan terhadap Teheran.
"Para
pejabat AS akan menghadapi tantangan baru dan tak terduga dari militer
Republik Islam Iran, baik dalam hal persenjataan maupun geografi perang,
yang tidak pernah mereka bayangkan. Amerika Serikat harus berharap
kejutan dari militer kami,” kata Akraminia kepada kantor berita
mahasiswa Iran (ISNA).
Menurut
Akraminia, militer Iran telah menyiapkan serangan kejutan yang akan
digunakan jika AS terus melakukan tindakan agresif terhadap negaranya.
Dia juga menilai Washington tidak mampu sepenuhnya mengendalikan
gejolak, bahkan di wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruh
militernya sendiri.
Ancaman Pembalasan Langsung
Akraminia
menegaskan bahwa Iran siap memberikan respons keras terhadap setiap
ancaman dari AS maupun sekutunya. Dia menyebut kapal-kapal tanker Iran
tetap berlayar dari Selat Hormuz menuju Samudera Hindia meskipun tekanan
dari pihak luar meningkat.
“Setiap ancaman dari AS atau sekutunya akan memicu pembalasan langsung dan keras,” ujarnya.
Peringatan
tersebut muncul setelah AS menerapkan kembali blokade maritim terhadap
Iran. Akibat kebijakan itu, sejumlah kapal tanker dan kapal kargo Iran
dilaporkan dicegat sehingga kesulitan keluar dari kawasan Teluk Persia.
Situasi
ini menandai meningkatnya kembali ketegangan antara Teheran dan
Washington setelah sebelumnya kedua negara mencapai kesepakatan
penghentian konflik melalui MoU Islamabad. Iran menilai langkah AS yang
memperketat blokade maritim sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan
tersebut.
Korps
Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyerang pangkalan-pangkalan militer
AS di enam negara Timur Tengah sepanjang Jumat, menargetkan fasilitas
radar, hanggar, hingga helikopter dan pesawat militer
Sumber: inews
.jpg)
