WANHEARTNEWS.COM - Jagat media sosial baru-baru ini diramaikan oleh unggahan dari sebuah akun parodi yang menyoroti perbandingan harga komoditas di salah satu jaringan toko kelontong daerah.
Berdasarkan
unggahan dari akun X (Twitter) dengan nama pengguna @OmJ_J3Nggott,
sebuah kritik tajam dilayangkan terhadap unit usaha bernama KDMP atau
Kopdes yang berlokasi di Ketitang, Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa
Tengah.
Akun
tersebut membagikan foto bukti cetak struk belanja fisik yang berasal
dari toko kdkop_ketitang_juwiring dengan waktu transaksi tercatat pada
tanggal 11 Juli 2026.
Dalam
narasi tertulisnya, sang pengunggah mengklaim telah melakukan
perbandingan harga antara barang-barang yang dijual oleh KDMP dengan dua
jaringan minimarket kompetitor lainnya.
Dari
hasil pengamatan pribadinya, ia menyimpulkan bahwa Kopdes justru keluar
sebagai "juara" dalam kategori harga yang paling mahal di antara para
pesaingnya.
Lebih
lanjut, akun tersebut mengungkapkan bahwa selisih harga per produk di
toko tersebut bisa mencapai nominal hingga Rp 1.000 per item.
Kenyataan ini pun langsung memicu reaksi kekecewaan yang cukup mendalam dari sang pemilik akun di ruang publik digital.
Ia
mempertanyakan esensi pembentukan unit usaha tersebut mengingat modal
awal operasionalnya disinyalir berasal dari dana kolektif milik rakyat
itu sendiri.
Alih-alih
memberikan bantuan keringanan berupa penyediaan barang-barang kebutuhan
pokok berharga murah, keberadaan KDMP dinilai justru malah menyusahkan
kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.
Pada
gambar struk belanja yang dilampirkan, terlihat juga sebuah teks
sematan berwarna merah dari konsumen yang berbunyi ngeri harga di KDMP
ternyata selangit.
Kritik
publik yang mencuat di platform digital ini tentu menjadi sebuah
catatan penting sekaligus bahan evaluasi mendasar bagi tata kelola
manajemen toko komunal tersebut.
Sebagian
masyarakat menilai bahwa badan usaha berbasis koperasi desa semestinya
berpihak penuh pada kesejahteraan finansial komunitas lokal.
Hingga
berita ini diturunkan, unggahan kritik tersebut telah berhasil
memancing atensi serta interaksi digital dari puluhan pengguna media
sosial lainnya di internet.
Pihak
manajemen KDMP Ketitang Juwiring sendiri sejauh ini belum memberikan
pernyataan klarifikasi resmi terkait keluhan selisih harga yang tengah
ramai diperbincangkan tersebut.
Diharapkan
ke depannya ada transparansi penentuan harga yang lebih bijak agar
fungsi utama koperasi dalam membantu perekonomian warga desa dapat
benar-benar terwujud secara nyata di lapangan.
Namun
belum dipastikan apakah benar bahwa struk yang tersebar merupakan benar
dari pembelian dari salah satu kopdes kdkmp yang telah beroperasi.***

